LAPORAN FIELDTRIP EKOWISATA
Laporan Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan Medan,
Juni 2021
EKOWISATA
Dosen
Penanggungjawab:
Dr.
Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Disusun
Oleh:
|
Paulus Pandiangan |
191201069 |
|
191201079 |
|
|
191201082 |
|
|
191201103 |
|
|
Sadar
Jusuf Simanjuntak |
191201104 |
|
191201197 |
|
|
|
|
Kelompok 7
HUT 4D
PROGRAM STUDI
KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat
dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaian laporan praktikum Ekonomi Sumberdaya
Hutan yang berjudul “Ekowisata” ini dengan baik dan tepat waktu. Laporan ini
dimaksudkan untuk memenuhi tugas Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan sebagai
syarat masuk Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan selanjutnya pada Program Studi
Kehutanan, Fakultas Kehutanan,
Universitas Sumatera Utara.
Penulis
mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggung jawab Praktikum Ekonomi
Sumberdaya Hutan Bapak Dr.
Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. karena telah memberikan materi dengan baik dan
benar. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada asisten yang telah
memberikan bimbingan dan arahan selama penulis mengikuti kegiatan praktikum.
Penulis
menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,
saran dan kritik dari berbagai pihak dalam upaya untuk memperbaiki isi laporan
ini akan sangat penulis hargai. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapapun
yang membacanya.
Medan, Juni 2021
Penulis
DAFTAR
ISI
Halaman
KATA PENGANTAR............................................................................................
i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
PENDAHULUAN
Latar
Belakang....................................................................................................1
Tujuan.................................................................................................................
2
TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................3
METODE PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat...........................................................................................
6
Alat dan Bahan ................................................................................................
6
Prosedur Praktikum...........................................................................................6
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil..................................................................................................................
7
Pembahasan.......................................................................................................
7
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan....................................................................................................
10
Saran...............................................................................................................
10
DAFTAR PUSTAKA
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Konsep ekowisata, prinsip, dan manfaat tersebut tidak dapat
dilepaskan dari sejarah yang melatar belakangi lahirnya gagasan wisata berbasis
konservasi lingkungan hidup tersebut. Konsep,
aktifitas, kriterianya berkembang seiring dengan meningkatnya kesadaran
lingkungan hidup masyarakat global.Untuk lebih memahami tentang gagasan
tersebut, sehingga tidak dengan mudah sebuah kegiatan wisata alam langsung
dikategorikan sebagai ekoturisme. Ekowisata adalah kegiatan
wisata yang bertanggung jawab terhadap alam, memberdayakan masyarakat,
meningkatkan kesadaran lingkungan. Ia bukan sekedar wisata alam semata. Konsep
ekowisata memiliki pengertian, sejarah, kriteria atau prinsip tersendiri
dibandingkan wisata konvensional (Asadi, 2017).
Konsep
ekowisata mencoba memadukan tiga komponen penting yaitu konservasi alam,
memberdayakan masyarakat lokal, meningkatkan kesadaran lingkungan hidup. Hal
ini ditujukan tidak hanya bagi pengunjung, tetapi melibatkan masyarakat
setempat. Konsep ekowisata memiliki sejarah yang belum terlalu lama. Ia
merupakan gagasan yang dapat dikatakan baru. Berkembang baru dalam tiga puluh
tahun terakhir. Usulan menggabungkan wisata alam dan konservasi pertama kali
dikembangkan oleh Budowski pada tahun 1976. Istilah ekoturisme sendiri baru
muncul pada pertangahan tahun 1980-an. Sejak dekade 1980-an, konsep serta
gerakan lingkungan (environmentalisme) semakin meningkat. Bahkan, menjadi isu
publik serta mendapatkan perhatian lebih penting bagi pemerintah, wisatawan,
swasta. Sebelum tahun 1970-an, upaya melindungi, melestarikan lingkungan hidup
masih tertinggal dibandingkan
saat ini (Arianta, 2015).
Sesungguhnya,
salah satu faktor penting yang mendasari gerakan ecotourism adalah berakar di Afrika. Saat itu,
orang-orang dapat pergi melakukan wisata alam, berburu satwa liar dengan
membayar tarif tertentu. Perburuan ini diterjemahkan sebagai olahraga. Mereka
berburu gajah, macan tutul, singa. Kegiatan berburu satwa liar ini dianggap
sebagai simbol status sosial karena untuk berburu harus membayar tarif yang
mahal. Sehingga, hanya sebagian kecil masyarakat saja, yaitu orang sangat kaya,
yang dapat melakukannya. Akibat meningkatnya berbagai masalah lingkungan hidup saat
itu, dalam kasus tersebut adalah perburuan satwa liar tanpa kendali, tanpa
disadari, telah menurunkan jumlah populasi satwa liar. Spesies liar seperti
Gajah, Singa, menjadi korban pertama yang populasinya menurun drastis (Emma,
2011).
Meningkatnya
dampak negatif kegiatan pariwisata masal, seperti peburuan satwa di Afrika,
menurunnya kualitas lingkungan, degradasi budaya masyarakat lokal
menyadarkan beberapa pihak untuk mengembangkan jenis wisata ramah lingkungan.
Ide ini disambut antusias oleh masyarakat. Hal ini ditandai dengan tingginya
minat masyarakat untuk mengalami kegiatan wisata ke lokasi pelestarian
lingkungan yang dilengkapi dengan interpretasi. Perkembangan praktek dan konsep
ekoturisme disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor yang utama adalah keinginan
menyediakan dana yang berkelanjutan bagi kegiatan konservasi alam dan satwa
liar. Namun, dikarenakan implemantasinya melibatkan atau memiliki dampak
terhadap berbagai pemangku kepentingan, maka gagasan tersebut melibatkan motif
yang lebih kompleks (Diah, 2013).
Ekoturisme bukanlah
sekedar konsep sederhana sebagaimana banyak diucapkan banyak pihak. Ia adalah
gagasan yang kompleks. Melibatkan banyak komponen, prinsip, kriteria. Tanpa
mengimplementasikan prinsip atau kriteria tersebut, maka sebuah aktifitas
wisata alam tidak dapat dikategorikan sebagai ekoturisme. Ekowisata adalah
perjalanan yang bertanggung jawab ke
daerah-daerah alami yang melestarikan lingkungan, menopang kesejahteraan
masyarakat setempat, melibatkan interpretasi serta pendidikan lingkungan hidup.
Ekowisata merupakan salah satu bentuk wisata yang mendorong usaha pelestarian
dan pembangunan yang berkelanjutan, memadukan antara pelestarian dengan
pembangunan ekonomi, membuka lahan kerja baru bagi masyarakat setempat serta
memberikan pendidikan lingkungan terhadap wisatawan (Manurung, 2012).
Tujuan
Tujuan dari Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan yang
berjudul
“Ekowisata” adalah untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan dan satwa liar apa saja yang terdapat di
ekowisata yang di kunjungi.
TINJAUAN
PUSTAKA
Ekowisata adalah suatu
konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung
upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam pengelolaan yang konservatif, sehingga memberikan manfaat
ekonomi kepada masyarakat setempat . Ekowisata merupakan kegiatan wisata
yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat lokal dan pelestarian
lingkungan. Ekowisata dapat memberikan banyak manfaat, seperti sumber pendanaan
bagi kawasan konservasi, perlindungan kawasan konservasi, alternatif sumber
mata pencaharian masyarakat lokal, pilihan untuk mempromosikan konservasi dan
dorongan upaya konservasi secara khusus (Manurung, 2012).
Ekowisata pada awalnya
hanya dilakukan oleh wisatawan pecinta alam yang menginginkan daerah tujuan
wisata, budaya dan kesejahteraan masyarakatnya tetap terjaga. Dalam
perkembangannya, terdapat beberapa cakupan ekowisata yaitu untuk edukasi,
pemberdayaan masyarakat, peningkatan ekonomi, serta upaya dalam kegiatan
konservasi. ekowisata terdiri dari tiga prinsip utama, yaitu; prinsip
konservasi, prinsip partisipasi masyarakat dan prinsip ekonomi. Prinsip
konservasi, artinya memiliki kepedulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap
pelestarian lingkungan alam dan budaya, melaksanakan kaidah-kaidah usaha yang
bertanggung jawab dan ekonomi berkelanjutan. Prinsip konservasi alam memiliki
kepedulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap pelestarian alam serta pembangunan
yang mengikuti kaidah ekologis, sedangkan prinsip konservasi budaya adalah
kepekaan dan penghormatan kepada nilai-nilai sosial budaya dan tradisi
keagamaan masyarakat setempat (Ketut, 2018).
Prinsip Partisipasi Masyarakat, Perencanaan dan pengembangan
ekowisata harus melibatkan masyarakat setempat secara optimal. Prinsip Ekonomi, pengembangan
ekowisata dilaksanakan secara efisien, dimana dilakukan pengaturan sumberdaya
alam sehingga pemanfaatannya yang berkelanjutan dapat mendukung generasi masa
depan.
Ekowisata bertujuan untuk meminimalisasi dampak negatif terhadap lingkungan,
meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat lokal, memberikan kontribusi
terhadap kelestarian kawasan dan meningkatkan kepuasan pengunjung terhadap alam
dan budaya. Berdasarkan objek
yang menjadi elemen utama perjalanan wisata, ekowisata terbagi menjadi dua
jenis, yaitu: Ekowisata alam,
Ciri-cirinya adalah dapat dilihat atau disaksikan secara bebas, seperti
pemandangan alam, flora, fauna dan vegetasi hutan. Ekowisata budaya, Hasil kebudayaan suatu bangsa yang dapat
dilihat, disaksikan dan dipelajari, seperti monumen bersejarah, tempat-tempat
budaya dan perayaan tradisional (Arianta, 2015).
Pariwisata di
Indonesia merupakan salah satu sektor penting dan menjadi potensi untuk
menambah devisa negara. Salah satunya adalah melalui ekowisata atau ekoturisme (ecotourism) yang
memiliki keunggulan-keunggulan dibanding jenis wisata lainnya. The International
Ecotourism Society mengartikan ekowisata sebagai kegiatan wisata yang
memiliki tanggungjawab kepada alam, masyarakat, dan lingkungan sekitar. Hal yang membedakan
antara ekowisata dengan wisata alam pada umumnya adalah kegiatan wisata yang
mengutamakan aspek konservasi alam, pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal,
menghormati kepercayaan masyarakat sekitar dan pendidikan lingkungan. Faktor
yang utama adalah keinginan menyediakan dana yang berkelanjutan bagi
kegiatan konservasi alam dan satwa liar (Ketut, 2018).
Prinsip Ekowisata yaitu Membangun kesadaran untuk menghormati lingkungan,
budaya, dan meningkatkan rasa hormat kepada
lingkungan masyarakat sekitar. Memberikan manfaat ekonomi bagi kegiatan
konservasi lingkungan. Memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Memberikan pengalaman positif kepada pengunjung dan tuan rumah. Membangun dan
mengoperasikan infrastruktur tanpa memberikan dampak negatif kepada lingkungan.
Menghormati hak-hak, budaya, hukum adat dan kehidupan spiritual dan sosial masyarakat
sekitar wilayah ekowisata (Auralia, 2016).
Menurut Manurung,et al. (2012), Produk dan jasa
ekowisata meliputi 6 jenis yaitu pemandangan dan atraksi lingkungan dan budaya,
misalnya titik pengamatan dan sajian budaya, manfaat lansekap, akomodasi,
peralatan dan perlengkapan, pendidikan dan keterampilan dan penghargaan. Konsep
ekowisata menghubungkan antara perjalanan wisata alam yang memiliki visi dan
misi konservasi dan kecintaan lingkungan. Pada penerapannya konsep ekowisata
juga memiliki dampak yang positif maupun negatif, salah satu dampak negatifnya
adalah terhadap kerusakan lingkungan, rendahnya partisipasi masyarakat dalam
ekowisata dan pengelolaan yang salah (Asadi, 2017).
Dampak positif adanya ekowisata adalah masyarakat
lebih sering berinteraksi dengan masyarakat lainnya dan menciptakan kerjasama
yang erat. Pengaruh ekowisata terhadap masyarakat yang didalamnya terdapat
kerjasama dan persaingan antara pelaku ekowisata. Adanya ekowisata menyebabkan
perubahan positif yaitu masyarakat menjadi semakin sering berinteraksi dengan
masyarakat lainnya. Pengelolaan lingkungan hidup merupakan upaya terbaru untuk
melestarikan fungsi lingkungan hidup. Kenyamanan dan keamanan bagi wisatawan
merupakan salah satu faktor yang menentukan keputusan untuk melakukan
perjalanan ke suatu destinasi pariwisata. Pada dasarnya, tujuan orang melakukan
kegiatan wisata untuk berekreasi dan mendapatkan kepuasan secara rohani dari
kegiatan tersebut. Para wisatawan akan lebih tertarik pada objek wisata alam,
karena banyak wisatawan yang menginginkan keindahan alam yang dapat menjadikan
mereka rileks dengan alam dari sebuah destinasi
wisata. (Silvia, 2018).
Bentuk refresiansi suatu bisnis yang memiliki keunikan
tersendiri karena mengikuti perkembangan zaman dan membutuhkan konsumen dari
industri pariwisata adalah memadukan konsep rekreasi dengan edukasi. Konten
edukasi dan konten rekreasi berpengaruh terhadap minat berkunjung, serta konten
edukasi juga secara langsung berpengaruh terhadap keputusan berkunjung tanpa
melalui proses tumbuh minatnya untuk berkunjung. Edukasi dalam suatu wisata
biasanya diberikan melalui pemandu wisata yang akan menjelaskan tentang wisata
yang berkaitan. Konsep ekowisata memiliki sejarah yang belum terlalu lama. Ia
merupakan gagasan yang dapat dikatakan baru. Berkembang baru dalam tiga puluh
tahun terakhir. Perkembangan praktek dan konsep ekoturisme disebabkan oleh
beberapa faktor. Faktor yang utama adalah keinginan menyediakan dana yang
berkelanjutan bagi kegiatan konservasi alam dan satwa
liar. Saat itu,
orang-orang dapat pergi melakukan wisata alam, berburu satwa liar dengan
membayar tarif tertentu. Perburuan ini diterjemahkan sebagai olahraga. Mereka
berburu gajah, macan tutul, singa (Emma, 2011).
METODE PRAKTIKUM
Waktu
dan Tempat
Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan yang berjudul “Ekowisata”
dilaksanakan pada hari Sabtu, 5 Juni 2021 pukul 10.00 - 11.50 WIB di tempat wisata
Taman Lumbini Gagoda, Sumatera Utara.
Alat
dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah alat tulis,
laptop ataupun
handphone.
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah buku
tulis, jurnal, dan
buku elektronik.
Prosedur
Praktikum
1.
Dilakukan
perjalanan dari menuju
tempat wisata.
2.
Dilakukan wawancara.
3.
Dicatat hasil
wawancara.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Adapun hasil dari Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan
yang berjudul “Ekowisata” ini adalah sebagai berikut.
Gambar 1. Wisata Taman
Lumbini Pagoda
Pembahasan
Pagoda merupakan
salah satu ekowisata
dimana secara ekologi
tetap memperhatikan sissi lingkungan sekalipun
beberapa pohon yang ada disana diubah menjadi
lokasi pagoda. Lokasi pagoda itu juga memberikan nuansa ekosistem lingkungan yang baik dimana pohon-pohon dan tanaman lainnya
dirawat dan dihindari untuk menebang jika bisa dihindarkan. Pagoda itu
termasuk sebagai ekowisata karena
pagoda itu merupakan suatu daerah hutan yang dibuka sebagai tempat untuk ibadah, hutan didaerah pagoda itu sudah
mendapatkan izin dari pemerintah
setempat dan dikarenakan tanah dari hutan pagoda itu merupakan milik seseorang sehingga itu juga
memudahkan mengapa hutan di pagoda itu bisa ditebang sehingga
dibentuklah pagoda.
8
Pagoda dibuka untuk umum dan pagoda ini juga bertujuan untuk menunjukkan
budaya Buddha agar masyarakat Buddha
bisa sembahyang atau ibadah ditempat
itu. Setiap rabu malam rutin dilakukan ibadah untuk umat sekitaran
tanah karo.Keberadaan pagoda ini juga bekerjasama dengan pemerintah setempat
karena jalan dan tempat parkir juga masih nyewa dengan dinas pertanian. Kendala yang terjadi sekarang
dipagoa itu salah satunya adalah corona karena
dapat dilihat dari pengunjungnya yang mulai sedikit yang berkunjung dan penghasilan dari sukarela yang di berikan
oleh pengunjung juga tidak seperti yang dulu ketika sebelum
adanya corona.
Dari sisi
kehutanan dan kelestarian alamnya juga sangat di jaga. Setiap ada pohon di sekitaran pagoda apalagi pohon
kecil di bawah pohonnya yang sangat besar itu dijaga agar tidak ada yang menebang
dan dialihkan. Dipagoda memiliki 2 sumber mata air. Distribusi yang
paling besar itu adalah gaji baik itu pembelian pupuk, mesn bababt, minyak dan lain-lain. Ada 2 stand dipagoda
yaitu stand kantor dan stand tendor.
Stand kantor menjual
makanan kayak es krim, nasi padang
vegetarian, nasi lemang, dimsum, dan lain-lain. Dari segi perawatannya secara garis besar dapat dilihat dari
pekarangan pagoda,bunga, tanaman,rumput, dan lain-lain
dan itu juga dijaga serta dirawat oleh tim mandor.
Biaya yang dikeluarkan untuk masuk kedalam pagoda
itu tidak terlalu banyak hanya uang masuk dan itupun seikhlasnya dan biaya untuk membeli snack atau nyewa fotografer setempat untuk berfoto.
9
KESIMPULAN DAN SARAN
|
9 |
Kesimpulan
1.
Ekowisata adalah suatu konsep
pengembangan pariwisata berkelanjutan yang bertujuan
untuk mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya)
dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan yang konservatif, sehingga
memberikan manfaat ekonomi
kepada masyarakat setempat
.
2.
Ekowisata pada awalnya hanya
dilakukan oleh wisatawan pecinta alam yang menginginkan
daerah tujuan wisata, budaya dan kesejahteraan masyarakatnya tetap terjaga. Dalam perkembangannya,
terdapat beberapa cakupan ekowisata yaitu
untuk edukasi, pemberdayaan masyarakat, peningkatan ekonomi, serta upaya dalam kegiatan konservasi.
3.
Pagoda merupakan
salah satu ekowisata
dimana secara ekologi
tetap memperhatikan sissi lingkungan sekalipun beberapa pohon yang
ada disana diubah menjadi lokasi
pagoda. Lokasi pagoda itu juga memberikan nuansa ekosistem lingkungan yang baik dimana pohon-pohon dan tanaman
lainnya dirawat dan dihindari untuk
menebang jika bisa dihindarkan.
4. Dari segi perawatannya secara garis besar dapat dilihat
dari pekarangan pagoda,bunga, tanaman,rumput, dan
lain-lain dan itu juga dijaga serta dirawat oleh
tim mandor. Biaya yang dikeluarkan untuk masuk kedalam pagoda itu tidak terlalu banyak hanya uang masuk dan
itupun seikhlasnya dan biaya untuk membeli snack atau nyewa
fotografer setempat untuk berfoto.
5. Pagoda itu termasuk sebagai ekowisata karena pagoda itu
merupakan suatu daerah hutan yang
dibuka sebagai tempat untuk ibadah, hutan didaerah pagoda itu sudah mendapatkan izin dari pemerintah
setempat dan dikarenakan tanah dari hutan pagoda itu merupakan milik seseorang sehingga
itu juga memudahkan mengapa hutan di pagoda itu
bisa ditebang sehingga dibentuklah pagoda.
Saran
Sebaiknya praktikan menguasai materi dan dapat mengembangkannya dengan
baik.
![]()
10
DAFTAR
PUSTAKA
|
10 |
Arianta K. 2015. Faktor-Faktor Yang Menghambat Pengembangan Ekowisata.
Jurnal Agrowisata, 4(1):133-139.
Asadi M. 2017. Valuasi
Ekonomi Ekosistem Terumbu
Karang, Banyuwangi.
Jurnal FPIK, 4(2): 144-152.
Auralia H. 2016. Pengembangan Potensi Ekowisata. Jurnal Destinasi
Pariwisata, 4(6):103-109.
Diah Y. 2013.
Pengembangan Wisata di Taman Wisata.
Jurnal Bahari,
7(1): 166-167.
Emma NS. 2011. Pemetaan
Potensi Ekowisata. Jurnal Fisip, 24(3):251-260.
Ketut IM. 2018.
Pengembangan Ekowisata Berwawasan
Kearifan Lokal. Jurnal Unej, 4(2):240-252.
Manurung A. Tatag M. Siti MR. 2012. Konsep dasar dan Pengertian Ekowisata.
Jurnal Kehutanan, 2(1):134-150.
Silvia KI. 2018. Analisis Perbandingan Nilai Manfaat Ecotourism. Jurnal FPIK,
5(2):155-156.


Komentar
Posting Komentar